Kesukaanmu atau Kesukaanku?
May 27th, 2009Dalam menjalani kehidupan yang berbasis cinta, pernahkah kita berpikir: “apakah saya memahami apa yang menjadi kesukaan orang lain?”
Contoh, antara anak dan orang tua. Apakah anak memahami apa yang menjadi kesukaan orang tua? Apakah orang tua memahami apa yang menjadi kesukaan anak?
Antara suami istri; Apakah suami memahami apa yang menjadi kesukaan istri, dan sebaliknya, apakah istri memahami apa yang menjadi kesukaan suami?
Antara kita dengan sahabat, antara kita dengan hewan atau tanaman peliharaan, antara kita dengan tetangga, dan antara - antara yang lainnya.
jika jawabannya adalah “ya”, maka muncul pertanyaan berikutnya: “pernahkah kita memberikan apa yang ia sukai?”
Berhentilah sejenak untuk berpikir jawaban tentang pertanyaan ini.
Kadang kala, kita seakan-akan tahu dan memahami apa yang menjadi kesukaan partner hidup kita (”partner” bisa siapa pun,tidak hanya pacar atau istri/suami).
Bandingkanlah antara jawaban “ya, saya paham dengan apa yang disukai olehnya”, dengan “ya, saya pernah memberikan apa yang ia sukai”.
Renungkanlah, apakah yang kita berikan adalah yang benar-benar ia sukai….
Apa yang ia sukai, belum tentu sama dengan apa yang kita sukai. Ketika kita memberikan apa yang ia sukai, padahal kita kurang suka melakukannya, apalagi terpaksa, maka muncul kondisi berikutnya:
“aku memberikan apa yang aku sukai, dan seharusnya ia menyukainya”.
Contoh:
aku tahu, istriku lebih suka membaca daripada nonton tivi. Koleksi buku cukup banyak, walaupun seingatku, ada 1 -2 buku yang belum selesai dibaca. Aku benar-benar tahu, ia suka membaca.
Ketika ulang tahun, aku membelikan buku best seller sebagai kado. Aku yakin dia sangat suka buku itu. Matanya tampak berbinar membuka bungkus kado setelah kuajak ia makan malam. Esok pagi dan seterusnya, tugasnya menjadi istri tetap berjalan.
Hingga ulang tahun berikutnya, ia ternyata belum sempat membaca buku kado tahun lalu.
Mengapa aku membelikan istriku buku best seller?
Karena, alasan pertama, risiko bahwa kadoku tidak disukai, cukup kecil.
Alasan kedua, buku best seller gampang diperoleh, aku pulang kantor, mampir toko buku, dan pasti sudah dipajang di paling depan.
Alasan ketiga, bagiku, yang penting adalah perhatian, bukan kadonya…
ternyata, alasan nomor 1, 2 dan 3 semua adalah untukku, kesukaanku. Bukan untuk kesukaan istriku.
Seandainya aku cukup memberikan waktu kepada istriku untuk bebas membaca, maka aku akan menjawab “ya” pada pertanyaan: “pernahkan kita memberikan apa yang ia sukai”
Contoh lain,
aku tahu, anakku suka bermain sepeda. aku tahu, dia suka bersepeda di sore hari. aku tahu, dia suka main sepeda dengan kawan-kawannya.
pada suatu weekend, aku dan anakku pergi ke pusat perbelanjaan. Aku hobi shopping. Anakku ke counter sepeda, aku keliling di counter busana.
Ketika itu aku belikan ia sepeda. Kami pulang lewat maghrib.
Mengapa aku membelikan sepeda untuk anakku? jawabannya: supaya ia tidak rewel minta pulang sore, aku masih ingin jalan2.
Seandainya bisa pulang lebih sore, meski tidak beli sepeda, anakku akan lebih suka. Aku pun “memberikan apa yang ia sukai”
Memahami kesukaan, tampak sepele. Memberikan kesukaan, juga tampak sepele.
Namun, jika selalu dipandang sepele, lama kelamaan kita akan mengorbankan orang yang kita cintai.
Renungkan, jika kita merasa tahu kesukaannya, apakah kita pernah memberikan kesukaan itu. Jika tidak pernah, maka jangan menuntut untuk mendapatkan kesukaan pribadi.
perlakukan orang lain seperti apa yang Anda harapkan orang lain perlakukan Anda [golden rule]